persiapan menikah bagi cewek single

Siap Menikah Bukan Status, Ini Tentang Siapa Aku Sebenarnya

Halo, Kawan Risalah-ku. Aku mau cerita sesuatu yang belakangan sering banget muncul di kepalaku. Tentang persiapan menikah.

Harus kuakui, di usia 30-an ini, pertanyaan mengenai “kapan?” sudah sama akrabnya sama notifikasi WhatsApp grup keluarga. Kadang lucu, seringnya malah bikin aku meringis. Tapi, apa pun itu, aku belajar satu hal penting.

Siap menikah tuh bukan cuma soal status. Lebih ke soal siapa kita sebenarnya.

Makanya, sebagai perempuan single, aku merasa perjalanan menuju ke sana justru penuh pelajaran yang nggak selalu akan terlihat dari luar.

Biarkan kuceritakan apa saja persiapan sebelum menikah bagiku sebagai cewek single!

Menengok ke Dalam Diri, Apakah Aku Sudah Mengenal Diriku dengan Jujur?

Dulu aku pikir siap menikah itu hanya butuh dua hal. Pasangan dan waktu yang tepat.

Tapi makin kesini, aku sadar bahwa pondasi menikah adalah memahami apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidup, termasuk nilai, batasan, dan kebutuhan emosional.

Aku sering bertanya pada diri sendiri.

“Aku ingin hidup seperti apa setelah menikah?”

“Hal apa yang membuatku merasa aman dan dihargai?”

Kawan Risalah-ku tahu nggak sih? Jawabannya tuh sering kali nggak sesederhana yang kupikirkan lho.

Kalau kalian masih single, sebelum memutuskan untuk menikah, coba deh jawab kedua pertanyaan itu!

Kestabilan Emosi, Pelajaran yang Baru Kuterima di Usia 30-an

Nggak bisa kupungkiri. Di fase hidup ini, aku belajar membaca emosiku lebih baik daripada beberapa tahun lalu.

Aku jadi lebih tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan perlu meminta bantuan, dan kapan harus memberi ruang pada diri sendiri.

Aku bahkan sempat baca beberapa artikel tentang tips pernikahan bahagia, dan aku menemukan bahwa kestabilan emosi individu adalah salah satu faktor paling besar yang menentukan kemana arah hubungan.

Baca juga:  Mengenal Stres dan Cara Menghadapinya dengan Bijak

Rasanya masuk akal. Soalnya, gimana kita mengelola diri, akan memengaruhi gimana cara kita mengelola hubungan. Benar nggak, Kawan Risalah-ku?

Kemandirian Finansial, Latihan Penting Sebelum Hidup Berdua

mandiri secara finansial
bagiku mau menikah harus bisa mandiri secara finansial dulu

Menurutku, kemandirian finansial nggak kalah penting sama kestabilan emosional. Sekarang ini, ada banyak sekali keluarga yang tercerai-berai dengan alasan finansial.

Oleh karena itu, aku mulai menata keuangan dengan lebih serius. Bukan karena aku ingin terlihat mandiri, tapi karena aku ingin siap menjalani masa depan yang lebih stabil.

Mulai dari membuat anggaran, menyiapkan dana darurat, hingga memahami kebiasaan belanja yang sering kubiarkan tanpa kontrol. Semuanya mulai belajar kukendalikan.

Selain itu, aku juga menyiapkan rencana cadangan, termasuk beberapa ide usaha rumahan kreatif yang bisa kujalankan dari rumah. Kita nggak pernah tahu apa yang akan kita alami nanti di masa depan ‘kan?

Merawat Fisik dan Mental, Dua Hal yang Sering Kuanggap Sepele

Aku mulai lebih peduli dengan ritme hidupku. Tidur cukup, olahraga ringan yang teratur, dan menjaga pikiran tetap jernih.

Di usia 30-an, kesehatan sudah bukan sekadar “biar keliatan fresh”, tapi tentang punya energi yang cukup untuk menjalani hari-hari penuh dengan tanggung jawab.

Aku juga mulai membiasakan diri sama latihan pernapasan sebelum tidur, menulis jurnal saat pikiranku ramai, sampai mencoba untuk merapikan pola makan yang selama ini sering berantakan karena deadline.

Gimana ya? Bagiku, menikah tuh bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi cukup kuat untuk menghadapi perjalanan panjang bersama seseorang.

Aku ingin masuk dalam ikatan pernikahan bukan dengan kondisi tubuh yang kelelahan atau pikiran yang keruh. Tapi, dengan versi diriku yang lebih sadar, lebih bisa hadir secara utuh, dan lebih tahu gimana cara merawat dirinya sendiri.

Baca juga:  Pulang Kampung dan Sawah Keluarga Hampir Melayang karena Nggak Punya Sertifikat

Secara ya, dalam pernikahan ‘kan nggak hanya ada aku seorang diri saja. Ada suami dan anak-anak nantinya. Belum lagi, keluarga besar yang muncul karena hubungan pernikahanku tadi.

Komunikasi, Keterampilan yang Nggak Kalah Penting

Persiapan menikah itu berarti kita harus tahu bahwa kita akan hidup bersama orang lain. Juga menyesuaikan diri dengan keluarga besarnya. Sehingga, komunikasi menjadi keterampilan yang nggak kalah penting.

Makanya, aku belajar untuk bicara jujur tanpa harus menyakiti, belajar mendengar tanpa merasa diserang, dan belajar mengatakan “nggak” tanpa harus merasa bersalah.

Soalnya, bagiku komunikasi bukan sesuatu yang remeh. Justru, menjadi hal yang paling menentukan arah hubungan.

Dalam prosesku belajar, aku menemukan artikel yang membahas cara membangun rumah tangga harmonis. Tahu nggak sih? Semua poinnya balik pada satu hal. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan sehat.

Merapikan Masa Lalu, Membersihkan Ruang Sebelum Bab Baru Dimulai

Kawan Risalah-ku pernah dengar nggak? Sebaiknya sebelum memutuskan untuk menikah, kita harus selesai dengan diri sendiri dulu.

Oleh karena itu, sebelum membuka bab baru, aku perlu membereskan yang lama. Entah itu luka, ekspektasi yang keliru, pengalaman buruk, atau rasa takut yang masih menempel.

Semua itu penting biar aku nggak membawa beban yang seharusnya nggak ikut masuk ke hubungan selanjutnya.

Mungkin pasanganku nggak masalah ikut membereskannya. Tapi, kurasa hubunganku akan lebih sehat saat aku sudah beres dengan masa laluku.

Menguatkan Identitas, Menjadi Diri yang Utuh Sebelum Menjadi Pasangan

siap menikah
Sebelum menikah harus beres sama diri sendiri dulu

Aku ingin menghadapi pernikahan sebagai perempuan yang sudah berdiri di atas kakinya sendiri. Mulai dari punya mimpi pribadi, dunia sendiri, dan kehidupan yang bisa kunikmati.

Meskipun nggak bisa kuhindari, aku akan terus sibuk dengan orang tua dan adikku, tapi seenggaknya aku punya ruangku sendiri.

Baca juga:  Cara Menghemat Keuangan Bulanan dalam Rumah Tangga

Kalau kalian juga sedang dalam fase yang sama, mungkin semua artikelku yang berisi tentang menuju pernikahan bisa menemani proses kalian.

Lingkungan yang Mendukung Sama dengan Energi yang Menguatkan

Tahu nggak sih apa hal terhebat yang kumiliki saat ini?

Aku tuh merasa sangat beruntung punya teman-teman yang nggak membuatku merasa tertinggal. Mereka malah justru mendukung prosesku.

Semua temanku percaya bahwa setiap orang punya waktunya sendiri. Dan rasanya itu sudah cukup membuat perjalananku terasa lebih ringan.

Menikah Itu Perjalanan, Bukan Kejar-kejaran Waktu

Kawan Risalah-ku, apa yang kupelajari dari proses ini tu adalah persiapan menikah harus kubangun, bukan kukejar. Dalam artian, bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi tentang gimana aku mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Dan saat hari itu datang, entah kapan, aku ingin menyambutnya dengan hati yang tenang dan diri yang lebih matang.

Sebagai langkah kecil, kalian bisa mulai menyiapkan hal-hal sederhana kayak checklist kebutuhan rumah tangga untuk pasangan baru untuk membayangkan kehidupan baru yang mungkin segera dimulai.

Pelan-pelan saja ya! Toh kita sedang membangun cerita yang lebih baik. Bukannya berkejaran dengan waktu.

Related Posts

One thought on “Siap Menikah Bukan Status, Ini Tentang Siapa Aku Sebenarnya

  1. Ah poin-poinnya ngena banget. Di sekitarku ada begitu banyak contoh pernikahan yang dilaksanakan tanpa adanya persiapan mental dan materi yang cukup. Sebagian lagi juga memang dilangsungkan karena “kecelakaan” dan sangat besar kemungkinan ke depan akan meletus konflik terlebih jika emosi masih sama-sama labil. Aku jadi ingat salah satu quote, “terlambat menikah tidak akan membunuhmu sementara ada banyak yang mati karena pernikahan (KDRT dsb)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *