Belakangan ini saya sedang senang mempelajari kesehatan mental. Salah satunya lewat buku. Saya merasa lebih mudah memahami sesuatu ketika bisa membacanya pelan-pelan, lalu mencoba menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan hadiah sebuah buku yang menurut saya menarik karena pembahasannya cukup aplikatif dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Mindfulness in Every Day Life. Karena merasa cocok dengan pembahasannya, saya pun cukup sering membacanya. Apalagi kalau sedang punya waktu luang di sela-sela menulis.
Sampai suatu sore, saat saya sedang asyik membaca buku itu, tahu-tahu mata saya mulai terasa perih dan panas. Saya masih mencoba melanjutkan membaca, tetapi tulisan di halaman buku mulai tidak terlihat jelas. Pandangan saya seperti sedikit berbayang. Mata juga terasa semakin berat untuk dibuka.
Akhirnya saya berhenti membaca. Buku saya tutup, dan karena mata sudah terasa tidak nyaman untuk terus diajak bekerja, saya memilih memejamkan mata dan pada akhirnya tertidur.
Mata SePeLe, Gejala yang Sering Dianggap Sepele
Setelah mencari tahu lebih jauh, saya baru menyadari bahwa apa yang saya rasakan sore itu bisa termasuk gejala yang sering dianggap sepele. Mata terasa perih dan panas, terasa berat untuk dibuka, sampai pandangan yang sedikit berbayang ketika digunakan untuk membaca. Keluhan seperti ini memang bisa muncul ketika mata mengalami kelelahan, termasuk setelah digunakan untuk membaca dalam waktu lama. Pada kondisi mata kering, misalnya, mata juga bisa terasa perih, panas, seperti berpasir, dan penglihatan dapat menjadi kabur atau berubah-ubah.
Di sini saya kemudian mengenal istilah Mata SePeLe. SePeLe merupakan singkatan dari Sepet, Perih, dan Lelah. Tiga keluhan yang sebenarnya cukup akrab dengan keseharian kita, tetapi sering kali justru dianggap sepele.
Sepet biasanya terasa seperti mata berat, kurang nyaman, atau seperti ingin segera ditutup. Perih bisa muncul sebagai rasa panas, pedih, atau seperti ada sesuatu yang mengganjal di mata. Sementara lelah dapat membuat mata terasa berat dan kemampuan melihat atau memfokuskan pandangan terasa terganggu, termasuk ketika membaca cukup lama.
Keluhan lain juga bisa menyertai, misalnya mata terasa kering atau justru berair, lebih sensitif terhadap cahaya, dan pandangan menjadi kabur untuk sementara. Bahkan pada mata kering, pandangan kabur dapat lebih terasa ketika membaca karena permukaan mata dan lapisan air mata ikut berperan dalam menjaga penglihatan tetap jelas.
Kalau dipikir-pikir, pengalaman saya sore itu memang ada beberapa yang cocok. Mata terasa perih dan panas, terasa lelah sampai berat dibuka, lalu tulisan di buku mulai terlihat berbayang.
Selama ini saya mungkin termasuk orang yang gampang mengatakan, “Ah, paling cuma mata capek.” Setelah istirahat sebentar, biasanya juga terasa lebih baik.
Padahal, #MataSePeLeJanganSepelein; rasa sepet, perih, dan lelah itu tetap merupakan sinyal dari mata yang layak diperhatikan. Bukan berarti setiap kali mengalami keluhan tersebut pasti mengalami mata kering atau masalah mata tertentu, tetapi setidaknya itu menjadi pengingat bahwa mata sedang tidak nyaman dan mungkin membutuhkan jeda.
Dan kalau dipikir lagi, membaca buku memang terlihat seperti aktivitas yang santai. Tapi selama membaca, mata tetap bekerja terus untuk melihat tulisan, mempertahankan fokus, dan mengikuti baris demi baris halaman. Jadi, kalau saya bisa memberi waktu beristirahat untuk tubuh dan pikiran, kenapa mata justru sering saya paksa terus bekerja?
Tips Membaca Buku agar Terhindar dari Mata SePeLe
Setelah mengalami sendiri bagaimana rasanya ketika mata sudah tidak nyaman untuk diajak membaca, saya mulai belajar mengubah beberapa kebiasaan. Ternyata, menjaga mata saat membaca tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Justru beberapa kebiasaan sederhana bisa dilakukan supaya mata tidak terlalu cepat lelah.
1. Jangan Membaca Terus-menerus tanpa Jeda
Ini mungkin yang paling sulit saya lakukan. Kalau sudah menemukan buku yang menarik, rasanya ingin terus membaca sampai satu bab selesai. Kadang satu bab selesai, lanjut ke bab berikutnya. Tahu-tahu sudah cukup lama mata saya menatap halaman buku.
Padahal, mata juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Karena itu, sekarang saya berusaha memberikan jeda di tengah kegiatan membaca. Setelah membaca beberapa waktu, saya berhenti sebentar, meletakkan buku, lalu mengalihkan pandangan dari halaman yang sejak tadi saya lihat.
Tidak perlu lama. Yang penting, mata tidak terus-menerus dipaksa melakukan pekerjaan yang sama dalam waktu panjang.
2. Coba Terapkan Aturan 20-20-20
Kalau sedang membaca dalam waktu cukup lama, aturan 20-20-20 bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk memberi kesempatan mata beristirahat.
Caranya, setelah membaca selama 20 menit, alihkan pandangan ke benda yang berjarak sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik.
Saya sendiri merasa cara seperti ini lebih mudah dilakukan daripada menunggu sampai mata terasa perih atau lelah. Jadi, istirahatnya dilakukan sebelum mata benar-benar meminta berhenti.
3. Pastikan Cahaya saat Membaca Cukup
Saya termasuk orang yang suka membaca sambil mencari posisi ternyaman. Kadang di tempat tidur, kadang di kursi, kadang di dekat jendela.
Tapi dari situ saya belajar bahwa nyaman bagi tubuh belum tentu nyaman untuk mata.
Membaca di tempat yang terlalu gelap membuat mata harus bekerja lebih keras untuk melihat tulisan. Sebaliknya, cahaya yang terlalu terang atau langsung memantul ke halaman buku juga bisa membuat mata terasa tidak nyaman.
Karena itu, usahakan membaca di tempat dengan pencahayaan yang cukup dan nyaman. Kalau membaca pada malam hari, pastikan ada sumber cahaya yang menerangi halaman buku dengan baik, bukan hanya mengandalkan cahaya dari ruangan yang redup.
4. Jangan Membaca Terlalu Dekat
Kadang kalau sedang serius membaca, posisi buku bisa tanpa sadar semakin dekat ke wajah. Apalagi kalau ukuran tulisannya kecil atau kondisi pencahayaan kurang mendukung.
Padahal, jarak membaca yang terlalu dekat bisa membuat mata terus bekerja untuk mempertahankan fokus.
Jadi, selain mencari posisi duduk yang nyaman, saya juga perlu memperhatikan jarak antara mata dan buku. Tidak perlu diukur dengan penggaris setiap kali membaca, tentu saja. Cukup pastikan buku berada pada jarak yang nyaman dan tulisan bisa dibaca dengan jelas tanpa harus menyipitkan mata atau mendekatkannya terus-menerus.
5. Jangan Tunggu Mata Benar-Benar Lelah untuk Berhenti
Ini pelajaran yang paling saya rasakan dari pengalaman sore itu.
Sebelumnya, saya cenderung berpikir bahwa selama masih bisa membaca, berarti tidak masalah untuk terus melanjutkan. Kalau mata mulai terasa sepet atau lelah, paling nanti juga hilang sendiri.
Ternyata saya justru menunggu sampai mata benar-benar tidak nyaman. Sampai tulisan di buku mulai terlihat berbayang dan mata terasa berat untuk dibuka.
Sekarang, kalau mulai muncul tanda-tanda seperti mata terasa sepet, perih, panas, lelah, atau pandangan mulai tidak nyaman, saya berusaha tidak memaksakan diri. Buku bisa dilanjutkan nanti. Mata saya tidak harus dipaksa menyelesaikan satu halaman hanya karena saya penasaran dengan isi halaman berikutnya.
6. Jangan Lupa Berkedip
Hal sederhana lain yang ternyata mudah terlupakan adalah berkedip.
Ketika sedang fokus membaca, perhatian kita tertuju pada tulisan di halaman. Tanpa sadar, frekuensi berkedip bisa berkurang. Padahal, berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata ke permukaan mata dan menjaga permukaannya tetap lembap.
Karena itu, saat membaca, saya juga berusaha lebih sadar untuk tidak terlalu lama menatap halaman tanpa berkedip.
Kelihatannya sepele, memang. Tapi justru hal-hal kecil seperti inilah yang sering terlupakan ketika kita sedang asyik membaca.
7. Kalau Mata Terasa Kering, Jangan Diabaikan
Kalau mata mulai terasa kering dan tidak nyaman, saya juga tidak ingin lagi menganggapnya sebagai gangguan kecil yang bisa terus dibiarkan.
Salah satu pilihan yang bisa digunakan untuk membantu meredakan gejala mata kering adalah obat tetes mata yang memang diperuntukkan untuk kondisi tersebut. Dalam pengalaman saya, Insto Dry Eyes menjadi salah satu yang saya gunakan ketika mata terasa kering dan membutuhkan bantuan agar kembali nyaman.
Tentu saja, penggunaannya #InstoDryEyes tetap perlu mengikuti petunjuk pada kemasan. Dan kalau keluhan mata terus berulang, semakin berat, atau mengganggu penglihatan, jangan hanya mengandalkan obat tetes mata. Lebih baik periksakan kondisi mata kepada tenaga kesehatan atau dokter mata.
Karena pada akhirnya, saya tetap ingin membaca buku-buku yang saya sukai. Saya tetap ingin belajar, tetap ingin menulis, dan tetap ingin menikmati waktu dengan buku tanpa harus menunggu mata saya benar-benar tidak kuat lagi.
Saya kira, menjaga mata bukan berarti harus berhenti melakukan hal-hal yang kita sukai. Kita hanya perlu belajar mengenali kapan mata sudah bekerja cukup keras dan memberinya kesempatan untuk beristirahat.
Jangan Sampai Keasyikan Membaca, Lupa Merawat Mata
Saya tetap ingin membaca buku. Apalagi sekarang saya sedang senang-senangnya mempelajari banyak hal tentang kesehatan mental. Rasanya sayang kalau harus berhenti hanya karena mata mudah lelah.
Tapi dari kejadian sore itu, saya belajar satu hal sederhana. Membaca buku memang bisa membawa kita ke banyak tempat, tetapi jangan sampai kita terlalu larut dalam bacaan sampai lupa memperhatikan kondisi mata sendiri.
Kalau tubuh sudah lelah, kita tahu kapan harus berhenti dan beristirahat. Kalau pikiran sudah penuh, kita juga belajar mengambil jeda. Seharusnya mata pun mendapatkan perhatian yang sama.
Sebab, mata yang membantu saya membaca setiap halaman buku juga punya batas. Ia bisa terasa sepet, perih, lelah, atau kering ketika terus dipaksa bekerja.
Jadi sekarang, kalau sedang membaca dan mata mulai memberi tanda-tanda tidak nyaman, saya berusaha untuk tidak lagi menganggapnya sepele. Saya memilih berhenti sebentar, memberikan kesempatan mata untuk beristirahat, lalu melanjutkan membaca ketika sudah terasa lebih nyaman.
Buku bisa saya lanjutkan nanti. Tapi mata yang membantu saya membaca buku-buku itu harus saya jaga.
Karena bagi saya, #BebasMataKering bukan berarti harus berhenti membaca atau berhenti melakukan hal-hal yang saya sukai. Justru dengan lebih peduli pada mata, saya bisa terus membaca, belajar, menulis, dan menikmati buku-buku yang saya cintai tanpa harus menunggu mata benar-benar menyerah.