cara mengatur gaji nggak tetap

Gaji Nggak Tetap Bukan Berarti Nggak Bisa Punya Tabungan

Perubahan pekerjaan dari pegawai nang sawitan (PNS) ke blogger, bikin aku merasakan satu culture shock. Penghasilanku nggak kayak dulu. Nggak tetap yang kupikir bakalan sulit mencari cara mengatur gaji. Rasanya, punya tabungan bakalan cuma jadi mimpi.

Ya gimana. Coba deh Kawan Risalah bayangkan! Waktu masih jadi PNS (humor dari sesama staf perkebunan kelapa sawit), aku punya gaji bulanan yang lumayan gedhe.

Hidupku jelas lebih gampang kuprediksi. Kayak, tanggal sekian gajian, lalu uang akan kupakai untuk memenuhi kebutuhan, kirim orang tua, dan bersenang-senang.

Begitu pandemi melanda dan aku memutuskan untuk menjadi fulltime blogger, semua kemewahan itu nggak lagi bisa kurasakan. Gaji atau pendapatanku nggak tetap.

Seringnya, begitu kelar posting tulisan untuk klien, belum tentu fee-nya langsung kudapatkan.

Tapi, tenang saja! Cara mengatur gaji yang nggak tetap tuh sebenarnya masih bisa bikin kalian punya tabungan kok. Paling nggak, itu yang sudah kulakukan.

Yuklah kita bahas!

Jangan Punya Mindset Tanggal Muda dan Tanggal Tua

Kawan Risalah tahu nggak, apa culture shock lainnya yang kualami selain nggak punya gaji dengan nominal yang tetap setiap bulan?

Aku nggak tahu kapan waktu menerima fee dari klien secara pasti. Bisa awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bahkan, ada job yang membuatku menunggu fee-nya sampai berbulan-bulan lho.

Oleh karena itu, mindset tanggal muda dan tanggal tua sudah nggak relevan lagi bagiku. Aku nggak bisa lagi langsung menuruti keinginan belanja impulsif saat menerima fee dari klien. Nggak peduli nominal fee-nya gedhe.

Aku pun mengubah pola pikir jadi lebih hati-hati setiap kali menerima pembayaran dari klien. Terus, aku mulai mencari cara mengatur gaji yang nggak tetap biar masih bisa menabung.

Sebagai Freelancer, Kita Adalah Bos Sekaligus Pegawai

blogger sebagai bos sekaligus pegawai

Selain mengubah pola pikir tanggal muda dan tanggal tua, aku juga punya sudut pandang baru yang mengubah caraku mengelola keuangan. Kawan Risalah mau tahu apa sudut pandangnya?

Sebagai freelancer, aku menyadari kalau aku punya dua peran sekaligus. Yaitu sebagai bos dan pegawai.

Sebagai bos, aku harus memikirkan gimana usahaku tetap berjalan. Aku perlu menyiapkan biaya operasional, membeli tools yang memang kubutuhkan, memperbarui skill, sampai menyisihkan dana darurat kalau sewaktu-waktu proyek sedang sepi.

Terus, sebagai pegawai, aku butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masalahnya, dulu aku sering jadi bos yang terlalu baik. Kok begitu?

Setiap ada pembayaran dari klien, hampir semuanya langsung kupakai untuk kebutuhan pribadi. Belanja ini itu. Jajan apapun yang kumau. Intinya, menyenangkan diri sendiri gitu deh.

Akibatnya, ketika ada kebutuhan blog, kayak harus memperpanjang sewa domain atau hosting, aku malah kebingungan karena dananya habis. Belum lagi kalau laptop bermasalah. Bisa kalang-kabut tuh aku.

Tapi, ya sudahlah ya. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang, aku sudah berusaha untuk memperbaiki bagian ini.

Dalam artian, nggak semua uang yang masuk otomatis jadi uang belanja. Ada bagian yang memang harus tetap berada di “perusahaan”, untuk mengembangkan usahaku sendiri.

Cara Mengatur Gaji yang Nggak Tetap agar Tetap Bisa Menabung

tips mengatur gaji yang nggak tetap

Nggak kerasa, sudah lumayan lama juga aku menggeluti dunia blogger. Ritme penghasilan yang naik turun mah sudah biasa bagiku.

Yang menarik adalah aku masih bisa menabung. Untuk biaya pendidikan adikku pun aman. Apa saja yang kulakukan untuk mengatur gaji yang nggak tetap?

Biar kushare tips mengatur pendapatanku yang nggak menentu ini pada Kawan Risalah semua.

1. Hitung Rata-Rata Penghasilan

Aku menyadari kalau penghasilanku dari blog memang nggak menentu. Kadang banyak, seringnya ya banyak sekali. Aamiin.

Makanya, ketimbang cuma mikirin penghasilan bulan ini doang, aku lebih suka melihat rata-rata beberapa bulan terakhir. Katakanlah, berapa penghasilan rata-rataku selama enam bulan terakhir.

Angka inilah yang kemudian kujadikan acuan saat menyusun anggaran bulanan.

Dengan cara ini, aku nggak mudah terlena pas lagi dapat banyak proyek, tapi juga nggak terlalu panik saat pemasukan lagi berkurang.

Pokoknya mah, aku chill saja apapun yang terjadi. Asal nggak nol banget saja. Alhamdulillah-nya memang nggak pernah sampai melewatkan bulan tanpa proyek sekalipun sih.

2. Buat Anggaran yang Detail

Anggaran ini penting. Kalau ada ini, aku jadi punya rem untuk membelanjakan uang yang masuk. Dalam arti, aku nggak bisa leluasa menghabiskannya tanpa tujuan yang jelas.

Setiap orang punya kebutuhannya masing-masing. Jadi, anggarannya mungkin akan berbeda-beda.

Namun, biar kubantu membagi per elemen anggarannya ya. Karena aku adalah seorang blogger, maka elemen anggaran ini akan berdasar pada kebutuhanku. Kalian bisa sesuaikan dengan kebutuhan kalian.

  • Kebutuhan hidup meliputi makan, listrik, internet, transportasi.
  • Utang atau cicilan (kalau ada).
  • Operasional blogger meliputi domain, hosting, tools SEO, Canva, laptop, upgrade perangkat
  • Dana masa depan, contohnya tabungan, investasi, dana darurat.
  • Pengembangan diri, misalnya ikut kelas SEO, beli buku, webinar, workshop
  • Hiburan, yaitu nonton, jalan-jalan, jajan favorit, ngopi, dan lain-lain.

List ini bisa kalian sedetail mungkin ya. Bila perlu sampai tingkat brand-nya apa dan kalian belinya di mana. Biar nggak ada celah untuk impulsif buying.

3. Mengurangi Pengeluaran yang Kurang Diperlukan

Aku tuh bukan tipe orang yang suka melarang diri sendiri untuk membeli sesuatu. Cuma memang, nggak semua keinginanku akan kupenuhi.

Yah, hari gini siapa sih yang nggak pingin punya ini-itu. Apalagi, aku ‘kan cewek ya. Kadang lihat ada yang lucu dikit maunya checkout. Perangkat nggak nyaman dikit, pinginnya upgrade. Gitu-gitulah.

Makanya, aku tuh melihat barangnya lama dulu sambil membatin. Aku emang butuh barang itu atau cuma lagi lapar mata saja?

Percaya deh, Kawan Risalah! Pertanyaan sederhana kayak gini tuh sering banget menyelamatkan isi rekening-ku.

Apalagi sebagai blogger, godaan membeli gadget baru, tools premium, atau mengikuti tren tertentu selalu ada. Padahal belum tentu semuanya benar-benar mendukung pekerjaan.

4. Manfaatkan Promo dengan Bijak

Ini nih yang aku yakin bukan cuma aku yang salah mendefinisikan kata memanfaatkan promo. Kalian juga pasti pernah mengalaminya.

Siapa sih yang nggak tahu promo tanggal kembar di marketplace? Malah kayaknya, banyak yang menunggu momen itu kalau lagi pingin sesuatu. Benar nggak?

Cuma, kalian jangan salah paham ya. Memanfaatkan promo di sini tuh bukan berarti kalian boleh membeli sebanyak mungkin barang yang lagi diskon.

Kalian ‘kan sudah punya anggaran yang detail. Pasti juga punya dong list belanja bulanan. Tuh sudah kita bahas di tips nomor dua tadi.

Dari list belanjaan ini, kalian baru mencari promo, cashback, voucher, atau gratis ongkir. Jadi, promo benar-benar sebagai alat untuk menghemat. Bukannya sebagai alasan untuk menambah pengeluaran.

5. Menambah Sumber Penghasilan

Harus kuakui, sumber penghasilan dari blog memang banyak. Nggak hanya berasal dari artikel sponsor doang.

Ada juga dari platform periklanan, semacam Google AdSense, MGID, dan lain-lain. Kalian bisa baca artikelku yang membahas tentang itu di blog ini juga lho.

Kalau sudah tahu penghasilan seorang blogger itu naik-turun. Jangan cuma mengandalkan satu sumber penghasilan saja, Kawan Risalah!

In this economy mah cara mengumpulkan cuan ‘kan banyak. Sudah begitu, kalian juga nggak harus keluar rumah untuk melakukannya. Ya sudah sih kalian optimalkan semuanya.

Sekalipun nominalnya nggak selalu besar, tapi kalau digabungkan semuanya. Bukankah hasilnya akan jauh lebih stabil ketimbang cuma mengandalkan satu sumber?

6. Mulai Membangun Passive Income

Bahkan saat kalian punya penghasilan atau gaji tetap saja, bukankah kalian masih belum punya kepastian akankah itu bisa abadi selamanya? Iya nggak, Kawan Risalah?

Apalagi yang nominal penghasilannya nggak tetap kayak aku. Makanya, aku mulai membangun passive income. Kalau cepat kaya ya bagus. Nggak juga nggak masalah.

Yang penting, aku punya cara untuk tetap punya pemasukan meskipun suatu saat nanti aku lagi nggak menerima banyak proyek.

Aku sudah pernah menulis tentang sumber passive income di blog ini. Kalian bisa membacanya untuk tahu apa saja yang bisa kalian jadikan sumber penghasilan lain.

Salah satu contohnya, aku bisa menjual e-book dan template digital di blog. Atau melalui investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan.

Memang sih hasilnya nggak instan, tapi sedikit demi sedikit tetap bisa jadi penopang kalau pemasukan utama lagi melambat.

7. Pisahkan Uang ke Beberapa Rekening

pisahkan uang ke rekening sesuai anggaran

Kawan Risalah semua harus tahu! Menaruh semua uang kalian dalam satu rekening tuh bakal mengundang gaya hidup boros lho. Kok bisa?

Begini ceritanya, kalian bakal dapat ilusi kalau uang kalian banyak. Padahal, elemen anggaran kalian juga banyak.

Nah, sejak menjadi blogger dengan gaji yang nggak tetap, aku nggak lagi mencampur semua uang dalam satu rekening. Untungnya, aku juga punya beberapa rekening.

Misalnya, rekening utama untuk menerima pembayaran dari klien. Mau itu, dari content placement, platform iklan yang muncul di blogku, affiliate marketing, dan lain-lain.

Dari situ, aku akan mendistribusikan uangnya ke rekening untuk masing-masing elemen anggaranku (sesuai poin nomor dua).

Dengan cara ini, aku jadi lebih mudah melihat uang mana yang memang boleh kugunakan dan mana yang sebaiknya nggak kusentuh sembarangan.

8. Selalu Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi

Kalian jangan kayak aku yang dulu ya, Kawan Risalah. Dulu, aku berpikir menabung bisa kulakukan kalau masih ada uang sisa. Aku lupa kalau sudah punya uang, nafsu jajanku bisa gedhe banget.

Nggak heran, kalau dulunya uang sisa yang kumaksud untuk kutabung nggak pernah ada. Boro-boro. Kalau ada uang nganggur, otak langsung kepikiran mau liburan kemana? Pingin jajan apa? Terus tas mana yang belum aku punya?

Sekarang, aku justru membalik urutannya. Aku nggak lagi menunggu ada uang sisa. Ya kali.

Pokoknya, begitu ada pembayaran masuk, aku langsung menyisihkan sebagian untuk tabungan dan investasi. Baru deh habis itu, sisanya kugunakan untuk kebutuhan lain.

Jumlahnya memang nggak selalu sama setiap bulan karena penghasilanku juga berubah-ubah. Namun, kebiasaan menyisihkan uang sejak awal bikin tabunganku tetap bertambah meskipun pelan-pelan.

Punya Gaji Nggak Tetap Masih Bisa Menabung Kok

Pada akhirnya, jadi blogger mengajarkanku satu hal penting. Keuangan yang sehat nggak selalu dimiliki oleh orang dengan gaji paling besar, tapi oleh mereka yang mampu mengelola penghasilannya dengan konsisten.

Memang, punya penghasilan yang nggak tetap bikin aku harus lebih sering berhitung. Ada kalanya proyek ramai bikin keuangan terasa longgar, ada kalanya sepi jadi aku harus berhemat.

Namun, itu bukan alasan bagiku untuk menyerah dan berpikir bahwa tabungan hanya bisa kumiliki saat punya gaji bulanan.

Selama, aku mau mengubah pola pikir, membuat anggaran yang detail, terus disiplin menyisihkan sebagian penghasilan setiap kali uang masuk, peluang untuk punya tabungan akan tetap terbuka.

Aku sendiri masih terus belajar. Masih ada kalanya salah mengambil keputusan atau tergoda membeli sesuatu di luar rencana. Bocor haluslah istilahnya.

Tapi ketimbang beberapa tahun lalu, paling nggak sekarang aku sudah nggak lagi merasa cemas setiap kali pemasukan bulan ini beda dari bulan sebelumnya.

Soalnya pada akhirnya, yang bikin tabunganku bertambah bukanlah kepastian gaji, tapi kebiasaan mengelola uang dengan lebih bijak.

Gimana menurut, Kawan Risalah? Adakah cara mengatur gaji yang nggak tetap yang mungkin belum kusebutkan? Yuk kita diskusi di kolom komentar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *